Manusia berjalan menelusuri waktu yang tiada hentinya menggrogoti senja. Compang camping kehidupan ini, di lalui tak kenal henti. manusia bersua “ini semua untuk mereka”, tak peduli mereka siapa tak peduli mereka apa.
Yang dia tahu mereka itu adalah sesuatu yang mesti diperjuangkan, tanpa mempedulikan cara pandang yang meski dipandang.
Puluhan ribu liter getah raga ini mengalir tak kenal detik, jam maupun masa. Waktu adalah karet pegas yang semangkin lama semangkin mendekat. dalam perjalanan itu apakah mereka tahu yang manusia kerjakan. Yang mereka fikirkan adalah puncak gunung tinggi, tertinggi dan pingin semangkin tinggi. Semangkin tinggi gunung semangkin berat para manusia ini memanggul beban. Nyawa pun jadi tumbal. tak berharganya jiwa dan raga ini, bila dibandingkan dengan sebutir pasir gunung yang terbang terseret angin.
Raga ini pun semangkin lemah tak berdaya, tak bisa lagi sama seperti masa lalu. Enerji itu tidak dapat membantu menarik waktu. Yang bisa dibuat hanya menahan waktu dan menunggu titik akhir waktu.
Bila waktu itu berhenti, yang tersisa hanyalah cerita kisah perjuangan. Tidak peduli kisah itu manipulatif atau ditambah-tambahkan. Yang tiada hanyalah membawa semua kisah yang terekam dalam waktu dunianya, untuk dijadikan bekal oleh-oleh untuk sang maha pencipta. Tak tahu benar, baik, - salah, buruk. Semua itu diperhitungkan sang kuasa, tiada kasta, ras, suku atau apapun yang bisa menyelamatkannya. Hanya kisah indah dan bermanfaat bagi sesama yang bisa membantu dia.
Perenungan
Killer Martien 22 juni 2009
No comments:
Post a Comment