Dalam hidup setiap Manusia mengalami
ketakutan, kegundahan ataupun kegalauan dalam hidup sehari-hari. Pada tingkat
paling sulit dan gawat, orang akan mengalami stress, depresi atau bahkan sampai
mengalami ganguan jiwa. Sebetulnya, kegalauan, stres, depresi, dan gangguan
kejiwaan yang menyebabkan hidup terasa sempit itu disebabkan oleh: pelalaian,
mengesampingkan zikir, mengingat Allah.
“Dan barangsiapa berpaling dari mengingat-Ku, Maka Sesungguhnya baginya
penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam
keadaan buta“. (QS. Thaha [20]: 124).
Lalu, apa yang harus kita lakukan jika kita mengalami bermacam kegalauan
hidup tersebut.
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram”. (QS. al-Ra’d [13]: 28)
Al-Quran memberi resep menghadapi rasa galau, stress, depresi, dan gangguan
jiwa adalah: zikir. Apakah zikir itu? Dalam al-Quran, kata dzikr
terulang lebih dari 250 kali berikut turunan katanya. Secara harfiah, dzikr berarti
“mengingat”. Sedangkan secara istilah, dzikr bermakna: upaya mengingat
Allah dengan ungkapan-ungkapan tertentu, dilakukan secara berulang-ulang. Menariknya,
Allah memerintahkan zikir sebanyak-banyaknya dan dalam kondisi apa pun.
“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah,
zikir yang sebanyak-banyaknya” (QS. Al-Ahzab [33]: 41)
“Ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring
“ (QS. Al-Nisa [3]: 103)
Manfaat zikir. Pertama, mendekatkan diri pada
Allah. Allah berjanji dalam al-Quran:
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku
ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari
(nikmat)-Ku”. (QS.
al-Baqarah [2]: 152)
Dalam hadits qudsi, yang masyhur di kalangan sufi, Allah pun
menyebutkan,”Aku adalah pendamping siapa pun yang ingat akan Daku.”
Selanjutnya, agar diri dekat dengan Allah melalui zikir, maka saat berzikir
diri harus hadir (hudhur). Kedua, makanan ruhani. Dalam Kimiyah
al-Sa’adah, al-Ghazali menjelaskan bahwa, manusia terdiri dari sisi lahir
dan batin. Sisi lahir memiliki kebutuhan, seperti makanan, minum, vitamin dan
sebagainya. Jika tubuh lahir kita kekurangan makanan, ia akan sakit. Hal
tersebut pun berlaku pada tubuh batin kita. Batin kita akan sakit secara ruhani
bila tidak dipenuhi kebutuhannya. Makanan ruhani batin kita yang utama adalah:
zikir. Dengan zikir, batin kita sehat!
Metode Zikir. Dalam tradisi Islam, ada dua metode (thariqah) zikir. Pertama,
zikir lisan, berarti zikir yang disuarakan dengan lidah zahir. Zikir ini
disebut juga zikir jahri (zikir terang-terangan). Kedua, zikir
kalbu, berarti, zikir yang dilantunkan dalam hati. Zikir ini disebut juga zikir
khafi (samar-samar, tersembunyi). Kedua metode zikir tersebut disinggung
dalam al-Quran:
“Berzikirlah kamu kepada Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan suara,
di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai
(QS. al-A’raf [7]: 205)
Contoh zikir. Dalam satu riwayat sufi diceritakan: Sahl al-
Tusari berkata kepada kepada muridnya. Usahankanlah menyebut sepanjang hari “Ya
Allah, Ya Allah, Ya Allah”. Lakukanlah hari berikutnya, dan hari berikutnya
lagi—sampai mengucapkan kata itu menjadi kebiasaan. Lalu ia disuruh
mengulanginya pada malam hari juga, sampai menjadi begitu biasa sehingga sambil
tidur pun diucapkan. Lalu ia berkata,”jangan diulang lagi, tetapi segenap
inderamu pusatkan pada zikir pada Allah.” Ia dilakukan oleh sang murid, sampai
ia tenggelam dalam pikiran tentang Allah. Pada suatu hari, waktu ia sedang ada
di dalam rumah, sebatang kayu menjatuhinya sehingga kepalanya pecah. Titik darah
yang jatuh ke bumi membentuk kata “Allah, Allah, Allah.”
Wa Allahu a’lam bi al-shawabi
(Prof M.Subhi)